MEJA KOTAK DAN SUMPIT PANJANG
  • Post category:Artikel

”Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat“ (Amsal 20:18)

Ada sebuah kisah seorang saudagar kaya raya di negeri antah berantah. Dia memiliki rumah makan terbaik di negeri itu. Rasa makanan yang enak luar biasa dan pelayanan baik membuat rumah makan tersebut menjadi maju dan ia mendapatkan banyak uang dari usahanya.

Tetapi ada satu yang dia tidak miliki, adalah keturunan. Oleh sebab itu dia ingin mewariskan usaha dan kekayaannya kepada orang terbaik dan yang dapat dia percaya untuk meneruskan usahanya ini.

Orang kaya ini memiliki strategi untuk memilih ahli warisnya, yaitu dengan mengundang 60 orang terbaik di negerinya untuk diundang makan di rumah makan terbaiknya. 60 orang ini akan diberikan makanan terenak dan termahal yang ada di menu rumah makannya.

Tetapi meja dan alat santap yang disediakan tidaklah seperti yang biasanya orang-orang dapatkan. 20 Meja kotak dengan sumpit yang sangat panjang disediakan di masing-masing meja. Orang-orang pilihan itu dipersilahkan untuk makan tetapi mereka merasa kesulitan untuk menyuapkan makanannya ke mulut. Orang kaya ini berjalan dari meja ke meja untuk melihat para tamunya. Dari meja ke-1 hingga meja ke-19 tidak ada orang yang berhasil menyantap hidangannya karena kendala sumpit yang sangat panjang itu. Tetapi sampailah Ia ke meja yang ke 20. Di meja tersebut, empat orang tampak menikmati hidangan dengan satu sama lain saling menyuapi. Memang, sumpit yang disediakan sangat panjang, sehingga mereka bisa menyuapi orang di dekatnya, dan sebaliknya. Hingga acara hampir selesai, hanya mereka berempatlah yang kenyang. Sementara, yang lain tak bisa menikmati hidangan karena berusaha sendiri-sendiri untuk segera menyantap makanan tersebut.

Cerita tersebut mengajarkan kepada kita, bahwa untuk melakukan sesuatu dibutuhkan kerja sama, dan sikap saling melayani. Jika masing-masing saling egois dan langsung terburu-buru bertindak maka banyak hal yang akan tidak terlaksana. Amsal 20:5 “Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya“ [SE]

Perenungan (P1) dan Penerapan (P2)

P1: Apa yang harus kita lakukan agar kita berhikmat dan memiliki hati yang bijaksana?

P2: Bagaimana sikap kita jika kita dihadapkan dengan suatu tantangan?

Bilangan 16-18