CINTA SEJATI
  • Post category:Artikel

Pdm. Hiruniko R. Siregar, M.Th

Yohanes 15:7-15

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh. 15:3)

Ketika membaca ataupun mendengar kata “cinta”, pastilah kebanyakan orang akan mengasosiasikan dengan “Romeo dan Juliet”, kisah kasih dalam film “Titanic”, guratan di pohon atau coretan di tembok yang menggambarkan hati yang terpanah dengan 2 inisial nama, makan bakso semangkuk berdua, minum es kelapa muda semangkuk berdua, makan malam dengan ‘ditemani’ cahaya lilin dan sekuntum bunga mawar dalam vas di tengah meja serta diiringi alunan lagu dari Kenny G yang syahdu. Atau kata tersebut identik dengan  hal-hal seperti ini : Tanganmu berkeringat dingin ketika bergandengan atau bersalaman, suaramu bergetar, atau bahkan kamu tiba-tiba kehilangan kata-kata ketika diajak bercakap-cakap dengan orang yang kamu sukai. Kalau tidak ketemu dengannya atau mendengar suaranya di telpon, maka perasaanmu menjadi tidak karuan dan ada kerinduan yang sangat untuk bertemu ataupun menelponnya. Itukah cinta? 

Survey membuktikan : justru hal-hal seperti itulah yang kebanyakan mendorong kaum muda melakukan hal-hal yang menyimpang dari firman Tuhan dan bahkan melukai hati Allah, dengan melakukan hubungan seks sebelum menikah – yang pada akhirnya mendorong terjadinya aborsi. Banyak anak-anak muda, generasi terang, yang ‘terjebak’ dengan perasaan/emosinya, yang mengakibatkan terjadinya kompromi demi kompromi. “Ah… sekalipun dia bukan orang yang percaya kepada Yesus, tapi mungkin setelah berpacaran dengan saya dia akan bertobat. ‘Kan berarti sekali tepuk dua lalat – saya berhasil memenangkan jiwa demi kemuliaan Tuhan, dan saya sendiri mendapatkan pasangan hidup yang saya butuhkan …”. Hal ini sering disebut: missionary dating. Survey juga telah membuktikan, bahwa seringkali missionary dating seperti itu justru banyak yang berakhir dengan terhilangnya sebuah jiwa, yang tentu saja mendukakan Bapa. 

Inilah kebenarannya : emosi tidak dapat dipercaya ! Cinta sejati lebih dari sekedar gejolak emosi. Kebenaran tentang cinta sejati bukanlah seperti yang didapat di film-film, buku-buku novel picisan, atau majalah-majalah remaja sekuler. Cinta sejati adalah Alm. Suster Teresa yang mempersembahkan seluruh kehidupannya untuk melayani orang-orang yang miskin, penderita lepra, dan orang-orang yang terlupakan di Calcutta. Cinta sejati adalah membagikan makanan dan pakaian serta keperluan hidup lainnya bagi para pengungsi. Cinta sejati adalah seperti yang tertulis dengan jelas pada Yohanes 15:13. Dan menjadikan Yesus sebagai prioritas utama dalam kehidupan – itulah cinta sejati !

Berhentilah memfokuskan perhatian pada masalah pasangan hidup. Jangan biarkan perasaan malu dan tidak mau kalah dengan teman-teman sebaya yang sudah berpacaran, menguasai pikiranmu dan emosimu sehingga engkau tidak bisa berpikir dengan jernih. Fokuskan perhatianmu pada pencarian kebenaran tentang cinta sejati. Survey membuktikan : bahwa orang-orang yang berhenti memfokuskan pikirannya pada mencari pacar/pasangan hidup dan mulai memfokuskan dirinya pada mencari kebenaran dan mempraktekkan cinta sejati dalam hidupnya, adalah orang-orang yang berhasil menemukan pasangan hidup yang tepat, berhasil menjaga kekudusannya hingga dipersatukan dalam pernikahan yang kudus, dan memiliki kehidupan pernikahan yang sehat dan langgeng. 

Kalau saat ini ada teman yang menyukaimu, atau sebaliknya ada teman yang kau sukai, jangan biarkan emosi dan hormon menguasai dan mengacaukan hidupmu. Bacalah dan renungkan : I Korintus 13, Galatia 5 : 22-23, I Timotius 4 : 12, dan yang tak boleh terlupakan Yeremia 33 : 3.  Kalau orang yang menyukaimu atau orang yang kau sukai ternyata tidak menunjukkan perilaku seperti yang tertulis pada I Korintus 13, maka gunakan akal sehatmu – jagalah jarak dengannya untuk sementara waktu. Temukanlah cinta sejati yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka Tuhan akan melengkapi hidupmu dengan kebahagiaan yang kau rindukan. Dan yakinlah : Tuhan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh 3 : 11a).

Menjadikan Yesus sebagai prioritas utama dalam kehidupan – itulah cinta sejati !

Pertanyaan:

  1. Cinta sejati seperti apakah yang Kristus sudah berikan untuk kita?
  2. Bagaimanakah cara Anda membelas cinta sejati Kristus?